Mendengar, apalagi menerima tugas panggilan dari Allah merupakan sesuatu yang bisa dikatakan atau di katagorikan sulit bagi kita sebagai Umat-Nya. Mengapa ?
Sebab seringkali kita tidak mau mendengar tugas itu dan lebih suka mendengar dan menerima tugas panggilan dunia.... Bayangan kita jika kita menerima tugas itu, pasti yang ada di benak kita adalah, Menyita banyak waktu, pikiran, tenaga dll, yg membuat kita menjadi merasa tidak mampu (Tidak PD) karena Manusia hanya mengandalkan tenaganya saja.
Namun, jika kita membaca alkitab, khususnya pada Injil Lukas, disitu ada kisah tentang Maria. Peristiwa Inkarnasi Allah menjadi Manusia, tidak lepas dari peranan Maria Ibunda Yesus. Sebab hanya melalui ia saja Allah telah memilih dan menetapkan Maria sebagai satu-satunya wanita yang diperkenankan untuk melahirkan Yesus, Sang Juruselamat.
Maria, perlu dicatat juga bahwa ia adalah seorang wanita baik-baik dari Nazareth. Dan, pada saat itu pula ia masih berstatus tunangan Yusuf. Tentu hal ini merupakan Tugas yg tidak mudah bagi Maria, sebab ia pun pasti mengetahui apa yg akan terjadi pada dirinya nanti jika ia menerima tugas itu, tentunya akan ada banyak masalah yg mungkin saja menerpa ia. Namun, kita lihat juga, Maria mau menerima Tugas itu, dengan lapang, lihatlah apa yang ia katakan "Sesungguhnya Aku ini Hamba Tuhan, Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu"
Maria yang masih muda itu memposisikan dirinya sebagai hamba Tuhan dan menempatkan seluruh kehendak Tuhan diatas segala-galanya. Ia menyambut tugas yang berat itu dengan tulus, meskipun ia tahu bahwa ketaatannya itu dapat berakibat buruk bagi dirinya bahkan keluarganya sekalipun. Bukankah sikap Maria itu menjadi model yang ideal bagi kita orang beriman dalam mendengar dan menerima Tugas Allah itu ? Namun seringkali model spiritualitas yang kita kembangkan dan lakukan adalah suatu model ketaatan yang serba bersyarat, misalnya "Tuhan, saya akan menjadi pelayan-Mu, jika............" dan banyak lagi.
Tepatnya, model spiritualitas yg kita kembangkan adalah suatu proses kristalisasi dari egoisme diri, dimana kehendak dan kepentingan diri sendiri ditonjolkan, sehingga ruang untuk dimana Allah berkarya menjadi sempit bahkan tidak ada lagi.
Jadi, sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah, seyogyanyalah kita mau merendahkan hati, mau memusatkan hati dan pikiran kita untuk menerima dan mendengarkan apa yang Tuhan tugaskan untuk kita. Dalam hal ini ciri yang paling menonjol dari Tuhan Yesus dan Bunda-Nya Maria, adalah suatu ketaatan yang tanpa syarat, dan Mutlak. Sehingga melalu Maria, kita dapat belajar tentang ketaatan Iman yg luar biasa. Lihatlah diri Maria yang miskin, papa, tak terpelajar namun begitu agung dan setia melaksanakan kehendak Allah tanpa syarat. Sehingga tepatlah Maria bukan hanya ibu bagi kanak-kanak Yesus, tetapi dia juga adalah “Ibu beriman” bagi kehidupan kita. Amin.
Minggu, 04 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
